Arahbatam.com – Kepemimpinan Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota sekaligus Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra mulai menghidupkan kembali gagasan besar Kepala Otorita Batam yang ke-3 B.J. Habibie.
“Batam dinilai tidak lagi hanya bertumpu pada industri manufaktur konvensional, melainkan perlahan bertransformasi menjadi kawasan industri berteknologi tinggi dan ekonomi digital,” kata Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Batam, Mahayuddin.
Arah pembangunan tersebut terlihat dari perubahan struktur investasi yang kini mulai didominasi sektor-sektor bernilai tambah tinggi. Capaian realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 yang mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan investor global terhadap Batam.
Ketua Pemuda Muhammadiyah (PM) Batam itu menjelaskan, berdasarkan data Semester I 2026 menunjukkan investasi terbesar kini berasal dari sektor jasa lainnya yang didominasi pembangunan pusat data (data center) dengan nilai Rp6,09 triliun. Posisi berikutnya ditempati industri mesin dan elektronika sebesar Rp6,07 triliun, disusul industri kimia dan farmasi senilai Rp3,97 triliun.
“Komposisi investasi tersebut menunjukkan Batam menuju industri berbasis teknologi, digitalisasi, dan manufaktur berteknologi tinggi. Ini bukan lagi sekadar membangun kawasan industri biasa. Tapi ekosistem teknologi tinggi yang mampu menarik investasi global,” kata Yudi sapaan akrab Ketua PM Batam itu, Selasa (4/8).
Kemampuan Amsakar-Li Claudia, mempercepat pelayanan perizinan, memperkuat infrastruktur digital, serta membangun iklim investasi yang lebih kompetitif merupakan implementasi nyata dari cetak biru pembangunan Batam yang pernah dirancang Presiden Ke-3 Indonesia.
B.J. Habibie, kata dia, Selama memimpin Otorita Batam pada 1978–1998, merancang Batam sebagai pusat industri modern yang mampu bersaing langsung dengan Singapura. Visi tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur berskala internasional, mulai dari Jembatan Barelang yang menghubungkan enam pulau, Bandara Hang Nadim dengan landasan pacu sepanjang 4.025 meter, pengembangan pelabuhan laut dalam Batuampar dan Kabil, hingga pembangunan jaringan waduk untuk menjamin pasokan air bagi industri.
Menurut Mahayudin, konsep pembangunan Habibie juga dikenal melalui Balloon Theory, yakni menjadikan Batam sebagai kawasan yang siap menampung limpahan investasi ketika Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan tenaga kerja.“Konsep itu sekarang mulai menemukan momentumnya. Ketika Singapura semakin padat dan biaya industrinya meningkat, Batam harus siap menjadi kawasan alternatif dengan infrastruktur dan ekosistem yang lebih kompetitif,” tutupnya.




